Tragedi Sukhoi diduga ada sabotase
Oleh: JIBI - Mon May 14, 9:31 pm

- 795 views
- Tweet
JAKARTA: Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman menduga ada sabotase dalam kasus kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100.
Dugaan tersebut karena mengingat bisnis angkutan udara tidak terlepas dari persaingan dagang. “Ada pikiran begitu. Sedikit ada dugaan kontroversi. Ada dugaan ini karena persaingan dagang,” ujarnya kepada wartawan, Senin (14/5).
Menurut Irman, kemungkinan sabotase dapat dilihat dari instruksi petugas Air Traffic Control (ATC) yang mengizinkan pilot untuk menurunkan level ketinggian terbang dari 10.000 kaki ke 6.000 kaki.
Menurutnya, jika merujuk pada keterangan banyak pilot dan ahli penerbangan, lalu lintas penerbangan di sekitar Bandara Halim Perdanakusuma dan sekitarnya terbilang sangat rawan. Sedangkan kemungkinan lain, terdapat informasi tentang penumpang yang tidak mematikan alat komunikasi saat pesawat di udara.
Irman mengaku heran terhadap jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100. Sebab, pesawat itu termasuk canggih karena merupakan perpaduan antara Airbus dan Boeing. Selain itu, penerbangan pertama pesawat tersebut berjalan mulus tanpa ada gangguan apapun.
Sementara Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Penyelenggara Negara (LPPN) Jonathan SH mengatakan sebaiknya Kementerian Perhubungan mempercepat pembaruan sistem radar terpadu full back up agar kecelakaan yang menimpa Sukhoi Superjet 100 tidak terulang kembali.
“Sebaiknya Kementerian Perhubungan mempercepat pembaharuan sistem radar terpadu full back up karena alat tersebut memiliki teknologi canggih yang dapat merekam semua kejadian, termasuk merekam garis longitude,” kata Jonathan.
Menurut dugaannya, kecelakaan pesawat Sukhoi Super Jet 100 yang terjadi, bukanlah sepenuhnya kesalahan manusia. dia menduga kemampuan teknik Air Traffic Control (ATC) Indonesia dan peralatan yang dimiliki sudah ketinggalan zaman jika dibandingkan jumlah traffic yang harus dilayani.
Dia menyebutkan bahwa sulit untuk mengatakan jatuhnya pesawat Sukhoi SJ100 sebagai kesalahan manusia karena pilot Alexander Yablontsev mempunyai lebih dari 10.000 jam terbang. Pilot itu tercatat menerbangkan pesawat Boing dan pesawat sejenis lainnya dan memiliki reputasi sebagai pilot termuda dalam pengujian Astronot pesawat ulang alik BURAN pada 1989.
Menurut Jonathan, sesuai prosedur penerbangan, antara pilot dan pihak menara harus melakukan briefing office terlebih dahulu dengan pihak ATC sebelum terbang untuk memahami medan yang akan dilalui saat terbang serta prosedur yang pilot harus patuhi. Dengan demikian, ketika pesawat terbang di area terbatas untuk joy flight, pilot dan tower sudah sama-sama tahu medan yang dihadapi. (John Oktaveri/aw)
- Comments Off
- 795 views
Print

